Media PHBS Simkes 2008

Social media project PHBS Simkes Kelompok II

  • Blog Stats

    • 17,182 hits

RUMAH TANGGA SEHAT

Posted by Anton Ferri on 17 December, 2008

Program PHBS dalam rumah tangga adalah upaya pemberdayaan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktekkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, serta ikut berperan aktif dalam gerakan – gerakan peningkatan kesehatan masyarakat. Program PHBS dalam rumah tangga ini perlu terus dipromosikan karena rumah tangga merupakan suatu bagian masyarakat terkecil di mana perubahan perilaku dapat membawa dampak besar dalam kehidupan dan tingkat kesehatan anggota keluarga di dalamnya. Rumah tangga sehat juga merupakan suatu aset dan modal utama pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya.

Program ini dapat membawa manfaat bagi Rumah Tangga yang melaksanakan, seperti :

  • Peningkatan kesehatan seluruh anggota keluarga dan mencegah penyakit
  • Membantu anak tumbuh sehat dan cerdas
  • Meningkatkan produktivitas setiap anggota keluarga dalam kegiatan atau pekerjaan masing-masing.
  • Menurunkan biaya untuk pengobatan penyakit, sehingga meningkatkan efektivitas penggunaan keuangan rumah tangga, dan dapat dipergunakan untuk pemenuhan gizi keluarga , pendidikan dan modal usaha.

Program ini juga dapat membawa manfaat bagi masyarakat :

  • Masyarakat mampu mengupayakan peningkatan kesehatan lingkungan secara mandiri
  • Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
  • Masyarakat mau memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia secara optimal dengan berpedoman pada paradigma sehat
  • Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat ( UKBM ) seperti : posyandu , dana sehat , pondok bersalin desa ( polindes), Arisan jamban , kelompok pemakai air dll.

Apa yang harus dilakukan keluarga untuk mewujudkan Rumah Tangga Sehat ? Dari website Pusat Promosi Kesehatan Depkes didapatkan kriteria sebagai berikut :

  1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
  2. Memberi ASI ekslusif.
  3. Menimbang balita setiap bulan.
  4. Menggunakan air bersih.
  5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.
  6. Menggunakan jamban sehat.
  7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu.
  8. Makan buah dan sayur setiap hari.
  9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
  10. Tidak merokok di dalam rumah

Terlihat cukup banyak kriteria yang harus dipenuhi, tetapi tentu saja kita dapat berusaha mewujudkannya secara bertahap. Kita harus memulai dari satu langkah kecil untuk menuju pelaksanaan PHBS rumah tangga yang optimal.

Siapa yang diharapkan dapat melakukan Pembinaan Perilaku Hidup Bersih & Sehat di Rumah Tangga ? Yang secara resmi tentu adalah petugas kesehatan dan sektor-sektor yang terkait. Lalu bagaimana dengan peran masyarakat umum seperti kita? Tentu kita juga bisa berkontribusi dengan menyampaikan informasi yang kita dapat di blog ini kepada siapa pun yang kita pandang perlu. Dan hal inilah yang merupakan tujuan umum blog ini, yaitu mari kita juga mendukung dan berperan aktif dalam upaya-upaya peningkatan kesehatan dimulai dari diri dan keluarga sendiri :-) .

Posted in PHBS | Tagged: , | Leave a Comment »

HARI GINI MASIH MELAHIRKAN DI DUKUN ?????

Posted by Novita Veranita on 17 December, 2008

Pada jaman dahulu disaat tenaga kesehatan yang terampil (Bidan ) masih kurang jumlahnya, dukun beranak sangat dibutuhkan untuk menolong persalinan terutama didaerah pedesaan dan terpencil,padahal dukun beranak tersebut tidak pernah mendapatkan pelatihan medis tentang cara menolong persalinan yang aman.

Memang dulu banyak orang yang selamat melahirkan dengan dukun dan menurut saya itu hanya faktor kebetulan saja dan faktor kepercayaan tehadap dukun tersebut padahal kita tahu dukun tidak pernah belajar hygiene dan sanitasi, alat-alat yang digunakan juga tidak standar dan tidak pernah ada obat-obatan maupun suntikan yang diberikan (hanya obat-obatan tradisional yang belum tentu berkhasiat).Sekarang tenaga bidan (bidan desa) sudah banyak walaupun belum semua desa terisi bidan tetapi transportasi sudah mulai lancar untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.emang sih…peran dukun tidak dapat kita abaikan begitu saja, terutama dalam hal melakukan perawatan sebelum melahirkan seperti melakukan pijatan dikaki dan pinggang si Ibu Hamil dan hal ini sangat membuat Ibu Hamil merasa nyaman,begitu juga ketika habis melahirkan dukun membantu memandikan bayi,mencuci kain bekas melahirkan. Di beberapa daerah dukun tetap dibutuhkan dan mereka tidak mungkin disingkirkan begitu saja dan salah satu strategi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan adalah bermitra dengan dukun.Dukun membawa ibu hamil ketenaga kesehatan dan membantu mengurus Ibu Hamil dan Bayinya, untuk itu dukun tersebut mendapat insentif dan pengobatan gratis di Puskesmas.dan strategi ini cukup efektif hal ini terbukti sudah semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun.

Masyarakat memang masih kurang percaya dengan tenaga kesehatan yang bertugas didesa, karena bidan-bidan yang bertugas didesa tersebut masih sangat muda-muda sekali dan sering diragukan kemampuan mereka, oleh karena itu diperlukan kesabaran dan keuletan petugas untuk mengajak masyarakatnya untuk mau melahirkan ke tenaga kesehatan Karena bagaimanapun “persalinan yang aman adalah persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terampil(bidan, dokter spesialis kandungan)”.oleh karena itu mulai hari ini, mulai saat ini mari kita melahirkan ke tenaga kesehatan yang trampil.

Posted in PHBS, Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

Seberapa Penting Jamban di Rumah Tangga???

Posted by Andi Herman on 24 November, 2008

KebeletSeberapa penting jamban di rumah tangga??? Coba bayangkan, seandainya di rumah kita tidak ada Jamban atau istilah kerennya WC (Water Closet), kalau mereka yang tidak terbiasa pasti tidak sanggup membayangkannya khususnya mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang bukan pinggiran, tapi bagi mereka yang biasa, ya tidak jadi masalah, toh ada kebun, selokan, atau Jamban terpanjang di Dunia (Pinggiran Sungai yang biasa ada Jamban terapung) dan itu dianggap lumrah.

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masayarakat. Sebenarnya, masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di rumah. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belum mempunyai uang. Penulis teringat cerita mengenai dana Bantuan Langsung Tuna (BLT) pada saat penulis menonton acara berita di salah satu televisi swasta tanah air mengenai dialog antara Bapak Wakil Presiden yang turun langsung ke masayarakat, ada masyarakat (seorang ibu rumah tangga) yang protes mengenai mengapa dirinya tidak mendapatkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) padahal tahun lalu ibu tersebut mendapatkan dana Bantuan Tunai Langsung (BLT) tersebut, pada saat ditanya kembali oleh Bapak Wakil Presiden kenapa bisa demikian??? Ibu tersebut menjelasakan bahwa petugas survey melihat kalau Jamban atau WC ibu tersebut sudah memakai keramik dan bersih, sedangkan tahun lalu belum dikeramik dan terlihat jorok, selanjutnya Bapak Wakil Presiden langsung mengatakan untuk mendata ulang kembali mungkin ada kriteria miskin yang perlu disepakati.

Melihat kenyataan tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukan semata faktor keadaan ekonomi. Tetapi lebih kepada belum adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang mahal. Cukup yang sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rumah tangga. Buat apa jamban yang mewah sementara perilaku buang air besar (BAB) masih tetap sembarangan. Ada faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk membuat atau membangun jamban yaitu ketergantungan pada bantuan pemerintah dalam hal membangun jamban. Hal ini merupakan bagian dari kesalahan masa lalu dalam penerapan kebijakan yang justru cenderung memanjakan masyarakat.

Program pembangunan jamban yang dilakukan selama ini kurang optimal khususnya dalam membangun perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan yang dilakukan mempunyai karakteristik yang berorientasi kepada konstruksi atau bangunan fisik jamban saja, tanpa ada upaya pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang memadai. Selain itu desain jamban yang dianjurkan seringkali mahal bagi keluarga miskin. Subsidi material tidak dapat dilanjutkan baik oleh pemerintah maupun oleh donor. Akhirnya proyek tidak efektif menjangkau kelompok masyarakat miskin. Jamban dibangun, tetapi seringkali tidak digunakan masyarakat.

Masyarakat_SehatSalah satu komitmen Depkes pada tanggal 21 Agustus 2008, di Jakarta, Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.J(PK) membuka Konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (Konas PAM-RT) dan meluncurkan 10.000 desa kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Hal yang patut kita dukung bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan adanya kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) diharapkan terbentuknya Tim Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dalam membangun kesadaran dan peran serta dari masyarakat yang bekerjasama dengan tokoh masyarakat lintas sektor dengan melakukan sosialisasi mengenai akibat buruk dari kebiasaan BAB sembarangan baik dari rasa malunya, rasa jijik, harga diri, segi agama dan juga kesehatan.

Sosialisasi ini tidak hanya dilakukan di tempat dan hari-hari tertentu dan bukan hanya pada kelompok masayarakat tertentu, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Dan faktor terpenting adalah individu dalam rumah tangga sebagai kelompok terkecil dari masyarakat. Prinsip pembangunan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tidak menerapkan adanya bantuan finansial atau subsidi secara langsung kepada rumah tangga. Akhirnya penulis menyampaikan mari lakukan Perilaku Hidup Bersih dan sehat dengan membangun Jamban di Rumah Tangga, tidak perlu mahal dan berkesan mewah tetapi memenuhi syarat kesehatan “Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi”.

Posted in PHBS | Tagged: , , , | 1 Comment »

RUMAH TANGGA BEBAS ASAP ROKOK

Posted by Novita Veranita on 19 November, 2008

Kebiasaan merokok di lingkungan keluarga merupakan hal yang sepele namun bahaya yang ditimbulkan cukup besar, bukan bagi diri sendiri tapi juga bagi anggota keluarga lainnya.

Merokok dalam keluarga sangat mengganggu dan sangat membahayakan anggota keluarga lainnya, berdasarka hasil Susenas(Survey Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001menyatakan bahwa 92,0% dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lainnya, hal ini biasa dilakukan pada pagi hari disaat sarapan bersama anak-anak dan sore sampai malam hari ketika sedang berkumpul dengan anggota keluarganya. Bisa dibayangkan didalam rumah tangga yang ukuran rumahnya tidak terlalu besar dengan jumlah anak rata-rata 3 orang, dipenuhi oleh asap rokok dari sang kepala keluarga. Anggota keluarga yang tidak merokok tetapi terpapar asap rokok dinamakan Perokok Pasif. Jadi sebagian besar anggota rumah tangga merupakan perokok pasif. Perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif.

Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap kesehatan anggota keluarganya sudah seharusnya “Sang Ayah” mencoba berhenti merokok atau merokok tidak didalam rumah. Berhenti merokok memang tidak mudah tetapi kalau tidak diniatkan dan mulai dicoba untuk berhenti,tidak akan pernah bisa berhenti merokok.Untuk tahap awal cobalah merokok di lingkungan yang khususkan untuk merokok ( area smoking ) sambil perlahan-lahan “BERHENTI MEROKOK”.

Posted in PHBS | Tagged: , | Leave a Comment »

RAKYAT SEHAT KUALITAS BANGSA MENINGKAT

Posted by bashaumein on 19 November, 2008

Apa yang semestinya dilakukan ?

Pembangunan kesehatan akan dapat dicapai  dengan memberdayakan masyarakat agar mampu secara mandiri memenuhi kabutuhan kesehatan yang berkesinambungan,” demikian pesan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr.dr. Siti Fadilah Supari SP.JP(K) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 44, pada tanggal 12 Nopember 2008 silam.

Pesan yang sederhana namun mengandung makna yang mendalam. Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi yakni pemberdayaan masyarakat dan kemandirian. Ini menjadi penting karena memang kesehatan harus dimulai dari kesadaran setiap individu untuk menjamin agar dirinya tidak sakit. Logikanya sederhana saja, jika setiap individu sehat, tentunya keluarga juga sehat dan jika setiap keluarga sehat maka dengan sendirinya  masyarakat sehat. Oleh karena itu perlu kesadaran individu bahwa keluarga dan masyarakat yang sehat, sesungguhnya diawali dari diri sendiri. Jika kita peduli terhadap kesehatan diri sendiri, maka kita telah berpartisipasi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.
Tugas mewujudkan masyarakat yang sehat tidak hanya dapat dilakukan seluruhnya oleh pemerintah, melainkan dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak, masyarakat dan individu. Berkaitan dengan masalah kesehatan, kerap kali didengunkan bahwa menjaga lebih baik daripada mengobati. Selain lebih mudah, menjaga kesehatan relatif lebih menghemat biaya. Disamping itu beban psikologi yang ditanggung  oleh penderita dan keluarga menjadi sangat berat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menurunnya produktifitas kerja.
Untuk itu lakukanlah gaya hidup sehat. Sehat harus dimulai darimu. Sehat harus menjadi gaya hidup. Beberapa pola perilaku hidup bersih dan sehat sebenarnya dapat dilakukan mulai dari hal-hal yang kecil misalnya saja mencuci tangan. Hal sederhana saja, namun dapat memberikan efek  yang berarti dalam mencegah penyebaran penyakit-penyakit menular seperti diare, ISPA dan Flu burung. Selain itu beberapa pola perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dilakukan setiap individu dalam keluarga yakni :
1. Makan makanan bergizi seimbang, tinggi  serat dan rendah lemak.
2. Lakukanlah aktifitas fisik 30 menit setiap hari.
3. Tidak merokok, minum minuman keras dan hindari narkoba.
4. Jaga kebersihan diri dan lingkungan.
Selain itu, yang tak kalah penting dalam menjaga kesehatan adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Berbagai cara dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan pribadi, keluarga dan masyarakat. Ingat : sehat dimulai darimu!!!

Posted in PHBS | Tagged: , , | Leave a Comment »

Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun / CTPS

Posted by Albar G on 19 November, 2008

Cuci Tangan Pakai Sabun

Cuci Tangan Pakai Sabun

Mencuci tangan dengan menggunakan sabun terkesan merupakan suatu hal yang sangat sederhana. Hal yang sangat lumrah kita lakukan.

Tapi mari kita lihat informasi dari website Depkes berikut : berdasarkan survei environmental service program (ESP) tentang perilaku masyarakat terhadap kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan Depkes dan instansi lainnya pada tahun 2006 – walau penetrasi sabun telah masuk ke hampir seluruh rumah tangga di Indonesia, rata-rata hanya 3% saja yang menggunakan sabun untuk cuci tangan, hanya 12% yang mencuci tangan pascabuang air besar, hanya 9% yang melakukan CTPS setelah membantu buang air besar bayi, hanya 14% CTPS dilakukan sebelum makan, 7% sebelum memberi makan bayi dan 6% sebelum menyiapkan makanan.

Lalu apa makna statistik di atas? Tentu bisa disadari bahwa tangan kita merupakan alat tubuh yang paling efektif untuk digunakan memegang sesuatu, sehingga bisa dibayangkan juga berapa banyak benda-benda yang tersentuh oleh tangan kita setiap hari, misalnya pada kegiatan-kegiatan umum yang disurvei di atas. Jadi jika tangan kita tidak bersih tentu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan, banyak kuman penyakit yang bisa menempel pada tangan dan masuk ke tubuh.

Kemudian mencuci tangan dengan air saja, ternyata juga tidak cukup untuk melindungi seseorang dari kuman penyakit yang menempel di tangan. Terlebih bila mencuci tangan tidak dibawah air mengalir. Walapun tangan bisa saja terlihat bersih tapi kuman yang menempel tidak bisa dihilangkan dengan air saja. Dengan demikian perlu bahan pembersih tambahan yang dapat menghilangkan kuman, yang paling sering kita gunakan dan mudah kita dapatkan tentu adalah sabun. Hanya dengan tindakan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dapat mencegah berbagai penyakit infeksi seperti diare, cacingan, ISPA, bahkan sampai dengan flu burung juga.

Dengan demikian kampanye gerakan CTPS tentu masih sangat relevan untuk digiatkan lagi dan kita dukung bersama. Hal ini sebenarnya sudah beberapa lama dilaksanakan, gerakan nasional CTPS telah dicanangkan oleh Menkes sejak tahun 2006 dan program PHBS juga telah mencantumkan mencuci tangan pakai sabun sebagai salah satu indikator keberhasilan program.
Hal ini juga mendapat perhatian di level international. Contohnya di website CDC dapat dilihat dukungan untuk Clean Hands Coallition dengan motto “Clean Hands Save Lives!“.

Dengan demikian kami juga mengajak siapa saja yang membaca tulisan ini untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan untuk ikut mengkampanyekan gerakan ini kepada siapa saja, khususnya tentu bagi orang-orang yang dekat dengan kita :) .

Salam!

Posted in PHBS | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Perkenalan dengan Media PHBS

Posted by Albar G on 14 November, 2008

Leaflet PHBS

Leaflet PHBS

Blog ini didedikasikan sebagai media informasi bagi siapa saja yang tertarik mengenai program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Program Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) telah diluncurkan sejak tahun 1996 oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang sekarang bernama Pusat Promosi Kesehatan.  Program ini dijalankan dengan kesadaran bahwa dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, dengan demikian diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.

Berikut adalah beberapa pengertian mengenai PHBS ini yang didapat dari website Pusat Promosi Kesehatan :

Perilaku Sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS.  Dalam hal ini ada 5 program priontas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM.

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

Dari pengertian di atas kita bisa melihat bahwa ruang lingkup program ini cukup luas, dengan demikian tentu tidak semua informasi mengenai program ini bisa dimuat dalam blog satu ini saja. Oleh karena itu sementara ini kami akan memprioritas informasi mengenai PHBS dalam kaitannya dengan gaya hidup. Tunggu saja posting berikutnya :)

Posted in PHBS | Tagged: , , | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.